Cara Menghafal Kosakata agar Tidak Mudah Lupa
Kosakata cepat lupa itu soal metode, bukan ingatan. Dengan cara tepat, 8–9 dari 10 kata diingat sebulan kemudian. Ini cara menghafalnya dengan cepat.
Diterbitkan Oleh TomaruWaktu baca 12 menit
- menghafal kosakata
- spaced repetition
- tips belajar bahasa
- EPS-TOPIK
- JFT-Basic
Kalau kosakata yang sudah kamu hafal cepat hilang, penyebabnya hampir selalu metode, bukan daya ingat. Uji diri sendiri, lalu ulangi kata itu di hari-hari berikutnya. Dengan cara ini, seminggu sampai sebulan kemudian sekitar 8–9 dari 10 kata masih diingat. Ini terlihat di data belajar anonim Tomaru, dan arahnya sama dengan puluhan tahun penelitian tentang cara belajar.
- Diulang besok, jangan ditunda. Kata baru yang diulang keesokan harinya, sekitar 6 dari 10 menempel. Kalau ditunda seminggu, kurang dari separuh.
- Menguji diri lebih kuat daripada membaca ulang. Dalam satu penelitian, seminggu kemudian orang yang membaca empat kali mengingat 40%, sedangkan yang membaca sekali lalu menguji diri tiga kali mengingat 61%.
- Yang penting ada jeda, bukan rumus yang persis. Jeda yang makin panjang maupun jeda yang tetap memberikan hasil yang hampir sama.
Diperbarui: Oktober 2026.
Kenapa kosakata cepat hilang setelah dihafal
Kata yang baru dihafal paling cepat hilang di hari pertama, lalu kecepatan lupanya melambat. Pola ini pertama kali dicatat oleh psikolog Hermann Ebbinghaus pada 1885. Pada 2015, peneliti di Universitas Amsterdam mengulang eksperimen yang sama dan mendapatkan hasil yang sangat mirip: 31 hari kemudian, mempelajari ulang daftar yang sama hanya menghemat sekitar seperlima waktu (Murre & Dros, 2015, PLOS ONE).
Angka "satu hari kemudian lupa 67%" yang sering beredar di internet adalah salah baca. Ebbinghaus mengukur berapa banyak waktu yang dihemat saat belajar ulang, bukan berapa persen yang masih diingat. Yang bisa disimpulkan: kalau tidak diulang, kata baru paling rawan hilang dalam satu-dua hari pertama.
Jadi kalau kamu menghafal 50 kata hari Minggu lalu tidak membukanya sama sekali sampai Sabtu berikutnya, wajar sebagian besar terasa asing lagi. Itu bukan tanda ingatanmu buruk. Itu tanda kata tersebut belum diulang pada waktu yang tepat.
Kenapa menyalin dan membaca ulang tidak menempel
Membaca daftar kata berulang-ulang membuat kata itu terasa familier. Masalahnya, rasa familier itu menipu. Dalam penelitian Roediger dan Karpicke (2006), mahasiswa yang membaca ulang sebuah teks justru mendapat nilai lebih tinggi 5 menit kemudian (81% dibanding 75%). Tapi seminggu kemudian hasilnya terbalik: yang membaca empat kali mengingat 40%, yang membaca sekali lalu menguji diri tiga kali mengingat 61%.
Langsung membaca ulang teks yang baru saja dibaca juga hampir tidak meningkatkan nilai ujian. Ini ditemukan di empat eksperimen dengan bahan buku pelajaran dan artikel ilmiah populer (Callender & McDaniel, 2009). Ketika para psikolog menilai 10 teknik belajar yang paling umum, membaca ulang dan menandai dengan stabilo masuk kelompok "manfaat rendah" (Dunlosky dkk., 2013).
Menyalin satu kata sepuluh kali punya kelemahan yang sama dengan membaca ulang: keduanya dilakukan sambil melihat jawabannya. Otak tidak pernah dipaksa mengingat sendiri, padahal di ujian tidak ada arti yang tertulis di sebelah kata.
Cara yang terbukti berhasil: uji diri, lalu beri jeda
Ada dua hal yang secara konsisten membuat kosakata bertahan lebih lama. Dalam penilaian 10 teknik belajar tadi, hanya dua ini yang mendapat nilai "manfaat tinggi" (Dunlosky dkk., 2013).
1. Uji diri sendiri sebelum melihat jawaban. Tutup artinya, coba ingat, baru cek. Dalam eksperimen menghafal 40 kata bahasa Swahili, orang yang tetap menguji diri meskipun sudah menjawab benar mengingat sekitar 80% seminggu kemudian. Yang berhenti menguji diri setelah sekali menjawab benar hanya mengingat sekitar 33–36% (Karpicke & Roediger, 2008, Science). Membaca kata itu beberapa kali lagi setelah benar hampir tidak membantu.
Kalau jawabanmu salah, langsung lihat jawaban yang benar. Penelitian dengan kosakata bahasa Luganda menunjukkan bahwa melihat jawaban benar segera setelah salah membuat jauh lebih banyak kata diingat seminggu kemudian (Pashler dkk., 2005).
2. Pisahkan pengulangan ke beberapa hari. Sebuah tinjauan atas 317 eksperimen menemukan bahwa dengan porsi belajar yang sama, belajar yang dipisah ke beberapa sesi menghasilkan 47,3% jawaban benar, dibandingkan 36,7% kalau dipelajari sekaligus (Cepeda dkk., 2006, Psychological Bulletin). Untuk bahasa asing hasilnya sejalan: tinjauan atas 48 eksperimen dengan 3.411 pembelajar menemukan efek belajar dengan jeda tergolong sedang sampai besar (Kim & Webb, 2022, Language Learning). Dalam riset, cara ini disebut *spaced repetition*.
Contohnya untuk tiga bahasa yang paling sering dipelajari orang Indonesia untuk ujian dan kerja:
| Bahasa | Kata | Cara menguji diri |
|---|---|---|
| Inggris (TOEFL/IELTS) | acquire | Lihat "acquire", ucapkan artinya ("memperoleh"), baru balik kartu |
| Korea (EPS-TOPIK) | 근로자 | Lihat 근로자, ucapkan artinya ("pekerja"), dengarkan bunyinya |
| Jepang (JFT-Basic) | 在留カード | Lihat 在留カード (ざいりゅうカード), ucapkan artinya ("kartu izin tinggal"), baru cek |
Urutannya selalu sama: kata dulu, ingat sendiri, baru cek. Untuk EPS-TOPIK dan JFT-Basic yang punya bagian mendengarkan, tambahkan satu langkah lagi: dengarkan bunyinya dan ucapkan.
Berapa lama jeda sebelum mengulang
Jeda pengulangan yang paling baik bergantung pada kapan kamu perlu mengingat kata itu. Dalam penelitian dengan 1.354 peserta, kalau ujian 35 hari lagi, jeda pengulangan terbaik sekitar 11 hari. Kalau ujian 70 hari atau setahun lagi, jeda terbaik sekitar 3 minggu. Dibandingkan mengulang di hari yang sama, memilih jeda yang tepat membuat jumlah yang diingat sekitar 64% lebih banyak (Cepeda dkk., 2008, Psychological Science).
Kamu mungkin pernah melihat rumus "1 jam, 1 hari, 3 hari, 1 minggu". Rumus seperti itu boleh dipakai sebagai patokan, tapi tidak perlu diikuti persis. Tinjauan atas 29 penelitian menemukan bahwa jeda yang makin lama makin panjang maupun jeda yang tetap memberikan hasil yang hampir sama (Latimier dkk., 2021). Eksperimen dengan mahasiswa Jepang yang menghafal kosakata bahasa Inggris juga menunjukkan bahwa yang paling menentukan adalah ada jedanya atau tidak, bukan bentuk persis jadwalnya (Nakata, 2015).
Patokan praktisnya: ulangi kata baru keesokan harinya, lalu perpanjang jedanya selama kamu masih bisa mengingatnya. Kata yang dijawab salah kembali ke jeda pendek. Kalau ujian masih beberapa bulan lagi, jeda beberapa minggu untuk kata yang sudah kuat itu normal.
Yang terlihat di data belajar Tomaru
Di Tomaru, aplikasi menghafal kosakata yang kami buat, polanya sama dengan penelitian di atas:
- Dengan jadwal pengulangan yang teratur, seminggu sampai sebulan kemudian sekitar 8–9 dari 10 kata masih diingat.
- Pengulangan pertama paling menentukan. Kata baru yang diulang besok, sekitar 6 dari 10 menempel. Kalau ditunda seminggu, kurang dari separuh.
Sumber data: data belajar anonim Tomaru (2026).
Artinya, langkah yang paling sering dilewatkan, yaitu mengulang kata baru keesokan harinya, justru langkah yang paling menentukan.
Berapa kata per hari yang ideal
Banyak artikel menyarankan 3–5 kata per hari, artikel lain 5–10. Angka-angka itu tidak salah, tapi terlalu sedikit untuk orang yang punya tanggal ujian. Cara yang lebih tepat adalah menghitung mundur dari tanggal ujian. Sisakan 2–3 minggu terakhir untuk mengulang dan simulasi, lalu bagi jumlah kata dengan sisa hari. Contoh dengan beberapa daftar kosakata yang paling dicari:
| Daftar kosakata | Jumlah kata | 10 kata/hari | 20 kata/hari | 30 kata/hari |
|---|---|---|---|---|
| EPS-TOPIK (sehari-hari + tempat kerja) | 2.183 | 219 hari | 110 hari | 73 hari |
| Irodori A1 (JFT-Basic) | 1.182 | 119 hari | 60 hari | 40 hari |
| Irodori A2 (JFT-Basic) | 2.451 | 246 hari | 123 hari | 82 hari |
| IELTS 6.0+ sampai level B2 | 3.206 | 321 hari | 161 hari | 107 hari |
Tabel ini hanya menghitung hari untuk kata baru. Setiap hari juga ada kata lama yang perlu diulang, jadi pilih target yang sanggup kamu jalani setiap hari, bukan target yang paling cepat selesai.
Langkah menghafal kosakata dengan cepat dan tidak mudah lupa
- Pilih satu daftar sesuai tujuanmu. Untuk kerja di Korea, kosakata EPS-TOPIK. Untuk kerja di Jepang, kosakata Irodori untuk JFT-Basic. Untuk kuliah atau beasiswa, kosakata TOEFL atau IELTS. Menghafal dari daftar acak membuat waktumu habis untuk kata yang tidak akan diujikan.
- Hitung mundur dari tanggal ujian. Kurangi 2–3 minggu untuk mengulang, lalu bagi jumlah kata dengan sisa hari.
- Untuk setiap kata: lihat, coba ingat sendiri, baru periksa jawabannya. Jangan membaca daftar kata beserta artinya.
- Kalau salah, lihat jawabannya saat itu juga, lalu uji lagi sebelum sesi selesai.
- Ulangi kata baru keesokan harinya. Ini langkah yang paling sering dilewatkan, dan paling merugikan kalau dilewatkan.
- Setelah itu, perpanjang jedanya selama kamu masih ingat: beberapa hari, seminggu, lalu beberapa minggu. Kata yang dijawab salah kembali ke jeda pendek.
- Ulangi kata lama dulu, baru tambah kata baru. Di hari yang sibuk, cukup ulangi kata lama saja. Berhenti total beberapa hari jauh lebih merugikan daripada mengurangi kata baru.
- Dengarkan dan ucapkan setiap kata. EPS-TOPIK dan JFT-Basic sama-sama punya bagian mendengarkan.
Kalau ingin langkah 2, 5, dan 6 diatur otomatis, Tomaru bisa melakukannya. Masukkan tanggal ujian, lalu aplikasi menghitung berapa kata baru per hari dan perkiraan menitnya. Pada setiap tombol penilaian tertera kapan kata itu akan muncul lagi, dan di hari kedua kamu bisa melihat berapa kata dari kemarin yang masih kamu ingat. Fitur inti menghafal kosakata di Tomaru gratis selamanya, tanpa iklan. Daftar katanya bisa dibuka langsung di situs tanpa menginstal aplikasi: EPS-TOPIK kehidupan sehari-hari, Irodori A1 untuk JFT-Basic, TOEFL iBT, dan IELTS 6.0+.
Pertanyaan yang sering muncul
Kenapa saya cepat lupa kosakata padahal sudah dihafal?
Biasanya karena kata itu dihafal dengan membaca ulang, lalu tidak diulang di hari-hari berikutnya. Kata baru paling rawan hilang dalam satu-dua hari pertama. Berdasarkan data belajar Tomaru, kata baru yang diulang keesokan harinya, sekitar 6 dari 10 menempel; kalau ditunda seminggu, kurang dari separuh.
Berapa kali satu kata harus diulang supaya tidak lupa?
Lebih sedikit dari yang kebanyakan orang kira. Kuncinya bukan jumlah pengulangan, tapi waktunya: setiap pengulangan dilakukan sebelum kata itu benar-benar hilang, dan setiap kali kamu mencoba mengingatnya sendiri dulu sebelum melihat jawaban.
Berapa kata per hari yang ideal?
Hitung dari tanggal ujianmu: jumlah kata dibagi sisa hari, setelah menyisakan 2–3 minggu untuk mengulang. Pilih jumlah yang bisa kamu jalani setiap hari, karena kata lama juga perlu diulang.
Bisakah menghafal 100 kosakata dalam 1 hari?
Bisa dibaca habis dalam sehari, tapi sulit dipertahankan di ingatan. Kata baru perlu diulang keesokan harinya, jadi 100 kata hari ini berarti besok ada sekitar 100 kata yang harus diulang, ditambah kata baru berikutnya. Biasanya kata yang harus diulang menumpuk dalam beberapa hari, lalu orang berhenti. Porsi kecil yang dijalani setiap hari menghasilkan lebih banyak kata yang benar-benar tersimpan.
Apakah menulis kata berulang-ulang membantu?
Menulis membantu kalau kamu perlu bisa menulis kata itu, misalnya hangul atau kana. Tapi untuk mengingat arti, menyalin sambil melihat jawaban punya kelemahan yang sama dengan membaca ulang: otak tidak dipaksa mengingat sendiri. Lebih efektif menutup artinya, mencoba mengingat, lalu menulis jawabanmu dan mengecek.
Apakah rumus 1 jam, 1 hari, 3 hari, 1 minggu harus diikuti persis?
Tidak. Penelitian menunjukkan jeda yang makin panjang maupun jeda yang tetap memberikan hasil yang hampir sama (Latimier dkk., 2021). Yang penting ada jeda, dan jedanya cukup panjang sesuai sisa waktu sampai ujianmu, serta kata baru diulang keesokan harinya.
Apakah cara ini berlaku untuk bahasa Korea dan Jepang?
Ya. Tinjauan atas 48 eksperimen bahasa asing menemukan efek belajar dengan jeda sedang sampai besar (Kim & Webb, 2022). Untuk bahasa Korea dan Jepang, pastikan dulu kamu bisa membaca hangul atau kana tanpa huruf Latin, karena menghafal lewat romanisasi berarti menghafal dua kali.
Aplikasi apa yang bagus untuk menghafal kosakata?
Pilih aplikasi yang membuatmu menguji diri sebelum melihat jawaban dan mengatur kapan setiap kata diulang. Kalau kamu menyiapkan EPS-TOPIK, JFT-Basic, TOEFL, atau IELTS, Tomaru sudah punya daftar katanya dengan arti bahasa Indonesia dan contoh kalimat. Fitur inti menghafal kosakatanya gratis selamanya, tanpa iklan.
Artikel terkait: Kurva lupa, Spaced repetition untuk kosakata, Efek pengujian, Kosakata TOEFL ITP dan IELTS per skor.
Referensi
- Callender, A. A., & McDaniel, M. A. (2009). The limited benefits of rereading educational texts. *Contemporary Educational Psychology*, 34(1), 30–41. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2008.07.001
- Cepeda, N. J., Pashler, H., Vul, E., Wixted, J. T., & Rohrer, D. (2006). Distributed practice in verbal recall tasks: A review and quantitative synthesis. *Psychological Bulletin*, 132(3), 354–380. https://doi.org/10.1037/0033-2909.132.3.354
- Cepeda, N. J., Vul, E., Rohrer, D., Wixted, J. T., & Pashler, H. (2008). Spacing effects in learning: A temporal ridgeline of optimal retention. *Psychological Science*, 19(11), 1095–1102. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2008.02209.x
- Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving students' learning with effective learning techniques. *Psychological Science in the Public Interest*, 14(1), 4–58. https://doi.org/10.1177/1529100612453266
- Karpicke, J. D., & Roediger, H. L. (2008). The critical importance of retrieval for learning. *Science*, 319(5865), 966–968. https://doi.org/10.1126/science.1152408
- Kim, S. K., & Webb, S. (2022). The effects of spaced practice on second language learning: A meta-analysis. *Language Learning*, 72(1), 269–319. https://doi.org/10.1111/lang.12479
- Latimier, A., Peyre, H., & Ramus, F. (2021). A meta-analytic review of the benefit of spacing out retrieval practice episodes on retention. *Educational Psychology Review*, 33(3), 959–987. https://doi.org/10.1007/s10648-020-09572-8
- Murre, J. M. J., & Dros, J. (2015). Replication and analysis of Ebbinghaus' forgetting curve. *PLOS ONE*, 10(7), e0120644. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0120644
- Nakata, T. (2015). Effects of expanding and equal spacing on second language vocabulary learning. *Studies in Second Language Acquisition*, 37(4), 677–711. https://doi.org/10.1017/S0272263114000825
- Pashler, H., Cepeda, N. J., Wixted, J. T., & Rohrer, D. (2005). When does feedback facilitate learning of words? *Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition*, 31(1), 3–8. https://doi.org/10.1037/0278-7393.31.1.3
- Roediger, H. L., & Karpicke, J. D. (2006). Test-enhanced learning: Taking memory tests improves long-term retention. *Psychological Science*, 17(3), 249–255. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2006.01693.x
Mulai belajar
Tomaru adalah aplikasi kosakata gratis tanpa iklan di alur belajar utamanya, memakai pengulangan berjarak FSRS untuk memindahkan kata ke memori jangka panjang.